Review Novel Dua Belas Pasang Mata Oleh Sakae Tsuboi

Identitas Buku

Judul buku: Dua Belas Pasang Mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 248

Genre: Literasi Jepang, fiksi, fiksi sejarah, slice of life

Deskripsi Buku

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Review

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Miss Oishi, yang merupakan seorang guru yang mengajar di desa Tanjung di Jepang pada zaman sebelum penjajahan dan pasca penjajahan. Miss Oishi mendapatkan julukan ini dari anak-anak didiknya di desa Tanjung, yakni dua belas anak dengan umur yang beragam. 


Miss Oishi bersama warga desa Tanjung dan warga desa Pohon Pinus, yakni tempat tinggalnya sendiri, mengalami berbagai peristiwa baik suka maupun duka bersama. Mulai dari ketika masih maraknya penggunaan Kimono dan sikap denial terhadap pembaruan, sampai penerimaan pakaian bergaya Barat, hingga masa-masa kelam saat peperangan dimulai dan dampak dari perang tersebut di masa itu. 


Kita akan disuguhkan oleh suka cita dari Miss Oishi dan kedua belas anak didiknya pada pembukaan novel ini, kelucuan dan keluguan mereka, penentangan warga desa terhadap Miss Oishi hingga akhirnya mereka menganggap Miss Oishi juga bagian dari orang penting di desa Tanjung, hingga kenangan-kenangan yang meninggalkan luka dan harapan dari para mantan murid Miss Oishi yang gugur dalam medan perang, dengan harapan yang tersisa bagi mereka yang masih hidup. 


Selama membaca novel ini, saya sangat merasakan emosi dari sang guru, Miss Oishi, dan usahanya yang kerap dianggap melawan pola pikir masyarakat di sana saat itu. Dan saya pun merasa bahwa Miss Oishi ini jugalah yang akan membuka pola pikir masyarakat menjadi lebih terbuka, berempati, dan melihat sudut pandang lain yang sebelumnya terkunci rapat. Dengan ini, kita bisa memahami bagaimana kehidupan Jepang sebelum perang, detik-detik perang dan pasca perang terjadi. 


Novel ini juga cukup menguras emosi bagi siapapun yang tidak akan pernah mendukung peperangan di setiap penjuru dunia. Sakae Tsuboi telah mengubah pandangan kita di mana sebelumnya anggapan bahwa mati di medan perang sangat terhormat, menjadi hiduplah lebih lama karena kehadiranmu sangat berarti bagi dirimu dan orang lain. 

8,5/10


Komentar

Postingan Populer