Review 'Berani Tidak Disukai' karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Identitas Buku
Judul buku: Berani Tidak Disukai
Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Tahun terbit: 09 September 2019
Tebal halaman: 352 halaman
Penebit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Self Improvement, Psikologi,
Filosofi
Deskripsi Buku
Membaca buku ini bisa mengubah hidup anda. Jutaan orang sudah
menarik manfaat darinya, dan sekarang adalah giliran anda. Berani Tidak
Disukai, yang sudah terjual lebih dari 3,5 juta eksemplar, mengungkap rahasia
mengeluarkan kekuatan terpendam yang memungkinkan Anda meraih kebahagiaan yang
hakiki dan menjadi sosok yang Anda idam-idamkan. Apakah kebahagiaan adalah
sesuatu yang Anda pilih?
Berani Tidak Disukai menyajikan jawabannya secara sederhana dan
langsung. Berdasarkan teori Alfred Adler, satu dari tiga psikolog terkemuka
abad kesembilan belas selain Freud dan Jung, buku ini mengikuti percakapan yang
menggugah antara seorang filsuf dan seorang pemuda.
Dalam lima percakapan yang terjalin, sang filsuf membantu muridnya
memahami bagaimana masing-masing dari kita mampu menentukan arah hidup kita,
bebas dari belenggu trauma masa lalu dan beban ekspektasi orang lain.
Buku yang kaya kebijaksanaan ini akan memandu Anda memahami konsep
memaafkan diri sendiri, mencintai diri, dan menyingkirkan hal-hal yang tidak
penting dari pikiran. Cara pikir yang membebaskan ini memungkinkan Anda
membangun keberanian untuk mengubah dan mengabaikan batasan yang mungkin Anda
berlakukan bagi diri Anda.
Review
Dalam buku ini, kita akan disajikan dengan
materi-materi psikologi Adler yang memusatkan pada “bagaimana cara untuk
bahagia?”, yang dijelaskan dengan sangat baik oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake
Koga melalui dialog antara seorang pemuda dan sang filsuf. Setiap dialog
disampaikan dengan baik tanpa menggunakan bahasa yang rumit, jadi tentunya
tidak akan terlalu memusingkan pembaca. Namun, karena ini adalah buku pertama
yang menjelaskan tentang topik tersebut yang saya baca, jadi tetaplah sulit
bagi saya untuk memahaminya.
Ada beberapa poin yang saya tangkap dari
buku ini, yakni: Semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal, bahwa
kita hanya perlu menjadi berani, dan fokus kehidupan hanya pada saat ini. Poin-poin
tersebut adalah poin-poin yang paling saya ingat, dikarenakan pembahasan dalam
psikologi Adler yang beragam namun tetap berfokus pada inti permasalan tentang
bagaimana cara untuk bahagia.
Semua persoalan adalah tentang hubungan
interpersonal, ini merujuk pada hubungan sosial setiap individu
dengan individu lainya, dan individu dengan kelompok. Pada umumnya, kita akan
berusaha sebaik mungkin dalam menjaga hubungan interpersonal kita dengan orang
lain, dengan selalu berusaha memuaskan mereka walau kita sendiri merasa
kesulitan dengan itu. Solusi yang ditawarkan Adler adalah, bahwa setiap orang
memiliki tugasnya masing-masing, dan adanya larangan untuk mengharapkan imbalan
setelah melakukan tugas-tugas tersebut. Dan tidak boleh mencampuri tugas orang
lain.
Kita hanya perlu menjadi berani. Konteks berani di sini memiliki banyak
aspek, tapi yang paling saya ingat adalah berani untuk bahagia. Mengapa untuk
menjadi bahagia membutuhkan keberanian? Karena banyak sekali orang-orang yang
menggantungkan kadar bahagianya pada penilaian orang lain. hal ini sejalan
dengan poin hubungan interpersonal. Untuk menjadi bahagia, kita hanya perlu
berpikir dan memiliki tujuan untuk menjadi bahagia, bukannya berharap orang
lain yang akan membahagiakan kita.
Fokus kehidupan hanya pada saat ini, artinya kita tidak perlu mengingat masa
lalu kita atau memprediksi masa depan kita. Karena hal tersebut tidaklah
berpengaruh pada diri kita saat ini. Psikologi Adler menggunakan pendekatan
Teleologis, yakni singkatnya, merupakan kebalikan dari pendekatan Aetiologis
yang digunakan oleh Freud dan Jung, yang menjunjung tinggi sebab dan akibat dari
setiap tindakan seseorang. kita hanya perlu menyibukkan diri kita pada saat
ini, tanpa mengingat apa yang telah kita lakukan kemarin, dan apa yang akan
terjadi di masa depan.
Pernyataan di atas merupakan penjelasan
singkat dari ringkasan yang diberikan sang filsuf di penghujung bab, yang
berbunyi;
Filsuf: Kalau begitu, dengan segenap
hati tarikanlah momen-momen yang ada di sini pada saat ini, dan hiduplah dengan
sungguh-sungguh. Jangan melihat masa lalu, dan jangan melihat masa depan. Seseorang
menjalani setiap momen yang utuh bagaikan sebuah tarian. Tidak perlu bersaing
dengan siapapun, dan tidak memerlukan tujuan apapun. Selama engkau
menarikannya, engkau akan sampai di suatu tempat. (halaman 311)
Dan,
Filsuf: Sekali lagi, aku akan memberitahumu
kata-kata Adler: ‘Harus ada yang mulai. Orang lain mungkin tidak bersikap
kooperatif, tapi itu tidak ada kaitannya dengan engkau. Nasihatku adalah ini: Kau
harus mulai, tanpa memandang apakah orang lain kooeratif atau tidak.
(halaman 313)
Secara keseluruhan, setiap materi psikologi
Adler disampaikan dengan sangat baik oleh sang penulis, Ichiro Kishimi dan
Fumitake Koga. Keberadaan sang filsuf dan pemuda juga memperjelas setiap poin
yang ada sehingga terdengar lebih realistis. Bagi siapapun yang ingin bahagia,
ingin berhenti bergantung pada orang lain, dan berhenti terjebak dengan masa
lalu atau masa depan, buku ini sangat direkomendasikan bagi anda!
Cukup sekian, terima kasih dan mohon maaf
atas setiap kekurangan saya dalam meresensi buku ini.


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar