Hujan Pembawa Berkah - sebuah cerpen
Hujan Pembawa Berkah
Cerpen ini saya tulis saat saya masih SD, maklumi saja kalau sangat berantakan hehehe. Daripada dianggurin, saya publish aja ke sini~
Hari ini langit
mulai gelap tertutup awan.
“sepertinya
akan hujan!”, keluh Fitri sembari melihat jendela.
“Yah...!
gak bisa main dong!”, tambahnya.
“Heh...!
gak boleh ngomong kayak gitu, hujan kan berkah dari Tuhan yang patut disyukuri, bukan
mengeluh. Kan tanpa air bagaimana bisa hidup?”, jawab Mamah menasihati anak
tunggalnya itu.
“Iya
deh ,Mah!”, tanggap Fitri menuruti nasihat Mamahnya.
Fitri
segera kedapur mengambil biskuit dan membuat teh manis hangat. Tak lupa
mengambil buku cerita horor pemberian ayahnya. Lalu, menuju ruang keluarga. Ia
menyalakan TV. Jarinya asyik menekan - nekan tombol remote untuk mencari
channel yang bagus.
Tiba
- tiba, jarinya berhenti menekan. Dia tertarik untuk menonton
berita.
“...sedang
terjadi kekeringan di sejumlah desa. Kekeringan terjadi karena hujan tak turun
berbulan - bulan. Saat ini sudah ada bantuan dari pemerintah daerah setempat
berupa air bersih yang disalurkan melalui truk air. Namun, itu belum mencukupi
kebutuhan para warga. Warga berharap ada bantuan air bersih lagi untuk
mencukupi kebutuhan mereka...” jelas reporter panjang lebar.
“wah...!
Kasihan banget mereka. Beruntungnya aku masih bisa diguyur hujan. Ternyata itu
maksud Mamah!”, tanggap Fitri menanggapi berita tersebut.
“Iya!”,
jawab Mamah yang tiba - tiba saja datang.
Lalu,
ia mematikan TV dan membaca buku cerita horor pemberian ayahnya.
Setelah
itu,
“wah
seru juga ceritanya walaupun aku jadi sedikit takut”, kata Fitri sembari
menutup buku dan menaruhnya kembali di tempatnya semula.
Mamah
dan Fitri berbincang sejenak sambil menikmati teh manis hangat dan biskuit.
Tiba
- tiba...
Tok...
Tok... Tok... Terdengar suara orang sedang mengetuk pintu.
“Coba
Mamah lihat dulu”, kata Mamah bergegas keluar melihat ada siapa di luar.
“Baik,
Mah!”, jawab Fitri. Fitri pun kembali melanjutkan makan biskuit.
Tiba - tiba,
Mamah kedapur dengan cepatnya. Dirumahnya Fitri, ruang tamu dan ruang keluarga
agak berjauhan, untuk kedapur, harus melewati ruang keluarga dulu.
“Mah,
tadi itu siapa?”, tanya Fitri sambil melahap biskuit.
“Itu
Lisa penyanyi cilik yang kamu idolakan, nak!”, jawab Mamah sambil tersenyum.
“Yang
benar, Mah?. Mamah tidak berbohong, kan?”, tanya Fitri serius sekaligus tak
percaya.
“Iya,
awalnya Mamah juga nggak percaya, tapi kenyataan nya iya!!”, jawab Mamah sambil
membuat teh dan mengambil biskuit. Fitri membantu Mamah membawakan biskuit ke
ruang tamu.
Setelah
sampai, Mamah mempersilahkan Lisa dan ibunya untuk makan dan minum yang telah
disediakan. Lisa dan ibunya menerima tawaran Mamah dengan ramah sembari tersenyum.
Fitri duduk di samping Mamah persis didepan Lisa yang sedang bermain handphone. Fitri senyum - senyum sendiri melihat idolanya datang langsung
kerumahnya. Dan tanpa disadari Lisa memperhatikan tingkah Fitri.
“Maaf
dik, kok dari tadi senyum - senyum
sendiri,ya?” tanya Lisa.
“Eh
enggak kok kak. Mmm... Kalo boleh tau, kakak ini Lisa bukan yang sudah jadi
penyanyi cilik yang sukses di ajang pencarian bakat menyanyi di TV?”, tanya
Fitri dengan serius.
“Haha...!
Iya!”, jawab Lisa senang melihat Fitri senang.
“Wah...!
Kebetulan saya adalah adalah fans berat kakak,lho! Jadi, boleh gak kalo
saya minta foto bareng sama tandatangan??”, tanya Fitri terlalu senang sampai
mimik mukanya menjadi aneh.
“Boleh
dong!”, jawab Lisa menerima tawaran Fitri.
Mereka
pun berfoto - foto bersama. Fitri pun menyedikan kertas dan pulpen untuk
ditandatangani.
Mereka
bersenang - senang bersama. Tanpa disadari, hujan pun mulai berhenti, mereka
pun pamit pulang.
“Bu,
terimakasih atas kebaikan nya telah menerima kami untuk berteduh dirumah ini,
kami pamit dulu, sekali lagi terima kasih!”, kata ibu Lisa.
“Fitri,
kapan - kapan kita main lagi, ya!”, kata
Lisa yang sudah menganggap Fitri adalah adiknya karena Lisa juga anak tunggal.
“Iya,
kak!!”, jawab Fitri yang juga menganggap Lisa adalah kakaknya.
“Kami
pamit dulu sampai jumpa!!”, kata Lisa dan ibunya sambil menaiki mobil dan
melambaikan tangan. Ibu Lisa menyalakan mobil dan meninggalkan rumah Fitri.
Fitri melambaikan tangannya sambil tersenyum. Lisa membalasnya dengan
melambaikan tangan. Senyuman dan lambaiannya terlihat di kaca mobil belakang.
Mobil Lisa pun menjauh.
Fitri
segera kekamar untuk mengambil buku hariannya. Ia menceritakan semua
kejadiannya hari ini. Ia memberinya quotes : “hujan tak selalu membosankan,
namun terkadang berisi kejutan di tiap tetesan air yang jatuh dari langit. Tak
lupa memberinya judul : Hujan Pembawa Berkah
TAMAT

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar