Contoh cerpen tentang lingkungan

Hijaukan Kembali Bukit Kami


Hari ini aku ada janji dengan teman-temanku di atas bukit, yaitu tempat bermain kami saat masih kecil. Untung saja aku sudah menyiapkan semuanya dan tinggal pergi ke sana. Aku memakai sweater merah dan celana panjang hitam. Dan juga tak lupa membawa berbagai jenis benih tumbuhan dan bunga, benih pohon-pohonan dan beberapa pohon kecil.





Sesampainya di sana aku disambut riang oleh teman-temanku. “hei, kenapa lama sekali?”, tanya shazami terlihat marah. “maaf, bawaan ku banyak”, jawabku kelelahan. “kita istirahat sebentar ya? Sepertinya Hanna lelah” pinta Ella mengasihani ku. “tidak apa-apa kok Ella, aku tidak terlalu lelah. Lagipula jika berlama-lama matahari akan segera ke atas” kataku menenangkan Ella. “baiklah”, jawabnya menurut.



Kami mulai mengambil semua yg telah dibawa dan mengerjakan tugas masing-masing. Sebenarnya tujuan kami kesini adalah untuk menghijaukan kembali puncak bukit ini, yang telah gundul karena kebakaran yg disebabkan oleh rokok bekas warga desa. 



Shazami mulai menanam di tengah puncak bukit dengan pohon yang rindang dan besar, seperti pohon jati. Ella mulai menanam disekitaran puncak dengan pohon yang lebih kecil tapi kokoh. Varizt menanam di dekat wilayah shazami dengan pohon yg sama dengan shazami. Sedangkan aku menanam bunga dan tanaman-tanaman hias dipinggiran paling ujung puncak yg berbatasan dengan desa.



Kami bekerja dengan penuh semangat, sambil membayangkan indah nya bukit ini bila kembali hijau. Matahari mulai meninggi menyebabkan sinarnya semakin silau dan terik. Karena kelelahan, kami beristirahat sejenak, sembari menggelar tiker di pos bekas kebakaran, menyantap bekal yang ada. Belum ada setengah wilayah yang kami tanami, namun kami tak menyerah.



Setelah kenyang, kami melanjutkan tugas kami. Sampai-sampai hampir seluruh tubuh merasa pegal dan terbakar sinar matahari. Masih belum setengah wilayah yg kami tanami, tetapi kami sudah sangat lelah. “bagaimana ini? Aku sangat lelah”, keluhku kepada yang lain. “ya, kami juga“, jawab yang lain serempak sembari menyeka keringat. “bagaimana jika dilanjutkan esok?”, tanya varizt. “baiklah, lagipula aku sangat lelah”, jawab Ella. Aku dan Shazami hanya meng-iyakan. 



Kami pulang ke rumah masing-masing, dan beristirahat. Keesokan paginya.... Aku bangun dan segera berangkat ke puncak bukit sembari memakai jaket tebal dan celana jeans panjang. Aku hanya membawa bekal, karena semua peralatan dan benih ku tinggalkan disana. Betapa terkejutnya aku, melihat banyak sekali tanaman dan pohon tertanam disana menutupi kegundulan akibat sebuah kelalaian. Mataku terbelalak tidak percaya. “apa yang terjadi?” tanya ku sambil mengucek mata. “hai! Kau baru bangun Hanna? Wah, sayang sekali kau tertinggal momen ini” jawab Ella sambil menyiram bunga. “biar saya yang jawab. Saya tak sengaja melihat kalian berbondong bondong menanam pohon, untuk mereboisasi bukit yang gundul, yang seharusnya sudah menjadi tugas saya karena itu perbuatan saya. Saya merasa tak enak hati melihat kalian bekerja keras menghijaukan bukit ini sementara saya hanya duduk dan diam saja. Jadi, saya memanggil seluruh warga desa untung bergotong-royong menanam tumbuh-tumbuhan”, jawab seorang warga desa. 



Aku hampir tak percaya, sungguh tak sia-sia usaha kami. Bahkan warga desa turut membantu kami. Aku sangat berterima kasih karena telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Padahal kami hanya menanam kurang dari setengah wilayah tempat ini, tetapi sekarang seluruh wilayah telah tertutupi berbagai macam tumbuhan dan pepohonan. Akhirnya aku dapat menikmati sejuknya embun pagi dan hijaunya tempat ini. Aku berjanji akan menjaga tempat ini dengan segenap jiwa ragaku.


PS : *cerita ini dibuat original oleh Author sendiri

Komentar

Postingan Populer